8 Golongan Penerima Zakat: Pengertian dan Manfaatnya

Nur Jannah


8 Golongan Penerima Zakat: Pengertian dan Manfaatnya

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Zakat memiliki banyak manfaat, baik bagi pemberi zakat (muzakki) maupun bagi penerima zakat (mustahik). Salah satu manfaat zakat bagi mustahik adalah membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Golongan yang berhak menerima zakat berjumlah delapan, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil. Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Miskin adalah orang yang memiliki harta tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Amil adalah orang yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat. Mualaf adalah orang yang baru masuk Islam. Riqab adalah budak atau hamba sahaya. Gharim adalah orang yang berutang dan tidak mampu membayar utangnya. Fisabilillah adalah orang yang berjuang di jalan Allah, seperti untuk kepentingan dakwah atau jihad. Ibnu sabil adalah orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal.

Zakat memiliki sejarah panjang dalam Islam. Pada masa Rasulullah SAW, zakat sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam. Zakat digunakan untuk membantu kaum fakir miskin dan untuk kepentingan dakwah Islam. Seiring perkembangan zaman, zakat terus berkembang dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Saat ini, zakat tidak hanya digunakan untuk membantu kaum fakir miskin, tetapi juga untuk berbagai kegiatan sosial lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Golongan yang Berhak Menerima Zakat

Zakat merupakan rukun Islam yang memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah membantu memenuhi kebutuhan hidup kaum fakir miskin. Golongan yang berhak menerima zakat berjumlah delapan, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil. Masing-masing golongan memiliki kriteria dan kebutuhan yang berbeda-beda.

  • Fakir: Tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja
  • Miskin: Memiliki harta tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
  • Amil: Bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat
  • Mualaf: Orang yang baru masuk Islam
  • Riqab: Budak atau hamba sahaya
  • Gharim: Berutang dan tidak mampu membayar
  • Fisabilillah: Berjuang di jalan Allah
  • Ibnu sabil: Sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal

Kedelapan golongan tersebut berhak menerima zakat karena mereka memiliki kondisi ekonomi dan sosial yang lemah. Zakat yang mereka terima dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti membeli makanan, pakaian, tempat tinggal, dan biaya pendidikan. Selain itu, zakat juga dapat digunakan untuk membantu mereka mengembangkan usaha ekonomi, sehingga mereka dapat mandiri secara finansial.

Fakir

Fakir merupakan salah satu golongan yang berhak menerima zakat. Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti cacat fisik, penyakit kronis, atau usia lanjut.

  • Tidak Memiliki Harta

    Fakir tidak memiliki harta yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti rumah, tanah, atau kendaraan. Mereka juga tidak memiliki tabungan atau investasi yang dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

  • Tidak Mampu Bekerja

    Fakir tidak mampu bekerja karena keterbatasan fisik, mental, atau usia. Keterbatasan fisik dapat berupa cacat bawaan, kecelakaan, atau penyakit yang membuat mereka tidak dapat melakukan pekerjaan yang layak. Keterbatasan mental dapat berupa gangguan jiwa atau kecerdasan yang membuat mereka tidak dapat memahami dan melaksanakan pekerjaan dengan baik. Usia lanjut juga dapat menjadi faktor yang membuat seseorang tidak mampu bekerja karena berkurangnya kekuatan fisik dan kemampuan kognitif.

  • Implikasi

    Kondisi fakir yang tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja membuat mereka sangat bergantung pada bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Zakat merupakan salah satu sumber bantuan yang dapat digunakan untuk meringankan beban hidup mereka.

Dengan memahami kondisi fakir secara lebih mendalam, kita dapat lebih menghargai pentingnya zakat dan menyalurkannya kepada mereka yang berhak menerimanya.

Miskin

Miskin adalah salah satu golongan yang berhak menerima zakat. Miskin adalah orang yang memiliki harta, tetapi hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pendapatan yang rendah, pengeluaran yang tinggi, atau tanggungan keluarga yang banyak.

Miskin merupakan komponen penting dari “golongan yang berhak menerima zakat berjumlah”. Hal ini karena zakat bertujuan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Miskin termasuk dalam kategori tersebut karena mereka memiliki harta yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu, mereka berhak menerima zakat untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan biaya pendidikan.

Contoh nyata dari miskin yang berhak menerima zakat adalah buruh harian lepas, pedagang kecil, atau petani yang pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Mereka memiliki harta, seperti sepeda motor atau peralatan kerja, tetapi harta tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka secara layak.

Pemahaman tentang hubungan antara miskin dan golongan yang berhak menerima zakat berjumlah memiliki beberapa aplikasi praktis. Pertama, hal ini membantu kita memahami tujuan zakat dan pentingnya menyalurkannya kepada mereka yang berhak menerimanya. Kedua, hal ini membantu kita mengidentifikasi orang-orang yang berhak menerima zakat di sekitar kita, sehingga kita dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ketiga, hal ini mendorong kita untuk bersyukur atas harta yang kita miliki dan untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.

Amil

Amil merupakan salah satu golongan yang berhak menerima zakat. Amil adalah orang yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat. Tugas amil sangat penting dalam penyaluran zakat, karena mereka memastikan bahwa zakat sampai kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Tanpa amil, zakat tidak akan dapat disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya. Hal ini karena amil memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengidentifikasi orang-orang yang berhak menerima zakat. Selain itu, amil juga memiliki jaringan yang luas, sehingga mereka dapat menyalurkan zakat kepada orang-orang yang membutuhkan di berbagai daerah.

Contoh nyata dari peran amil dalam penyaluran zakat adalah lembaga-lembaga amil zakat yang ada di Indonesia. Lembaga-lembaga amil zakat ini memiliki jaringan yang luas dan pengalaman dalam menyalurkan zakat kepada orang-orang yang membutuhkan. Mereka bekerja sama dengan masjid-masjid, yayasan-yayasan sosial, dan lembaga-lembaga lainnya untuk memastikan bahwa zakat sampai kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Pemahaman tentang peran amil dalam penyaluran zakat memiliki beberapa aplikasi praktis. Pertama, hal ini membantu kita memahami pentingnya membayar zakat melalui lembaga-lembaga amil zakat yang terpercaya. Kedua, hal ini mendorong kita untuk menjadi amil zakat, sehingga kita dapat membantu menyalurkan zakat kepada orang-orang yang membutuhkan. Ketiga, hal ini mendorong kita untuk bersyukur atas harta yang kita miliki dan untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.

Mualaf

Mualaf merupakan salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Mualaf adalah orang yang baru masuk Islam. Mereka berhak menerima zakat karena pada umumnya mereka mengalami kesulitan ekonomi dan sosial setelah masuk Islam. Zakat dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru.

  • Kebutuhan Ekonomi

    Kebanyakan mualaf mengalami kesulitan ekonomi setelah masuk Islam. Mereka mungkin kehilangan pekerjaan atau dijauhi oleh keluarga dan teman-teman mereka. Zakat dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan pokok, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

  • Kebutuhan Sosial

    Mualaf juga membutuhkan dukungan sosial setelah masuk Islam. Mereka mungkin merasa terasing dan tidak diterima oleh lingkungan sekitar. Zakat dapat membantu mereka membangun jaringan sosial baru dan mendapatkan teman-teman sesama Muslim.

  • Pendidikan Agama

    Mualaf membutuhkan pendidikan agama untuk memahami ajaran Islam secara mendalam. Zakat dapat membantu mereka mengakses pendidikan agama, seperti kursus atau pengajian.

  • Pembinaan Mental

    Mualaf juga membutuhkan pembinaan mental untuk menghadapi tantangan dan godaan setelah masuk Islam. Zakat dapat membantu mereka mendapatkan pembinaan mental dari ulama atau tokoh agama.

Dengan memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh mualaf, kita dapat lebih menghargai pentingnya menyalurkan zakat kepada mereka. Zakat dapat membantu mualaf memenuhi kebutuhan hidup, menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru, dan memperdalam pemahaman mereka tentang Islam. Mualaf adalah bagian penting dari golongan yang berhak menerima zakat, dan mereka berhak mendapatkan dukungan dari sesama Muslim.

Riqab

Riqab adalah salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Riqab adalah budak atau hamba sahaya. Mereka berhak menerima zakat karena pada umumnya mereka mengalami kesulitan ekonomi dan sosial. Zakat dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup dan memerdekakan diri dari perbudakan.

Riqab merupakan komponen penting dari “golongan yang berhak menerima zakat berjumlah” karena mereka termasuk dalam kategori orang-orang yang lemah dan membutuhkan. Perbudakan adalah sebuah praktik yang tidak manusiawi dan merampas hak-hak dasar manusia. Zakat dapat membantu riqab memerdekakan diri dari perbudakan dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Contoh nyata dari riqab yang berhak menerima zakat adalah budak yang bekerja di perkebunan atau rumah tangga. Mereka bekerja keras, tetapi tidak mendapatkan upah yang layak dan tidak memiliki kebebasan. Zakat dapat membantu mereka membeli kebebasan mereka dan memulai hidup baru yang lebih baik.

Pemahaman tentang hubungan antara riqab dan golongan yang berhak menerima zakat berjumlah memiliki beberapa aplikasi praktis. Pertama, hal ini membantu kita memahami pentingnya menyalurkan zakat kepada lembaga-lembaga yang membantu memerdekakan budak. Kedua, hal ini mendorong kita untuk mendukung upaya penghapusan perbudakan di seluruh dunia. Ketiga, hal ini mengingatkan kita akan pentingnya menjunjung tinggi hak asasi manusia dan memperlakukan semua orang dengan adil dan hormat.

Gharim

Gharim, atau orang yang berutang dan tidak mampu membayar, merupakan salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Zakat untuk gharim bertujuan untuk membantu mereka melunasi utang-utang yang dapat mengancam kehidupan mereka dan keluarganya.

  • Utang Produktif

    Utang produktif adalah utang yang digunakan untuk kegiatan ekonomi yang diharapkan dapat menghasilkan keuntungan, seperti utang untuk modal usaha atau pertanian. Zakat dapat membantu gharim melunasi utang produktif sehingga mereka dapat bangkit secara ekonomi dan terhindar dari kemiskinan.

  • Utang Konsumtif

    Utang konsumtif adalah utang yang digunakan untuk membeli barang-barang konsumsi, seperti utang untuk membeli kendaraan atau barang elektronik. Zakat juga dapat digunakan untuk melunasi utang konsumtif, terutama jika utang tersebut mengancam kesejahteraan gharim dan keluarganya.

  • Utang Kematian

    Utang kematian adalah utang yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia. Jika ahli waris tidak mampu melunasi utang tersebut, maka zakat dapat digunakan untuk melunasinya. Hal ini bertujuan untuk menjaga nama baik almarhum dan meringankan beban keluarganya.

  • Utang Medis

    Utang medis adalah utang yang timbul akibat biaya pengobatan penyakit. Zakat dapat digunakan untuk melunasi utang medis, terutama jika gharim tidak memiliki asuransi kesehatan atau jika biaya pengobatan sangat besar. Hal ini bertujuan untuk membantu gharim mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak dan terhindar dari beban utang yang memberatkan.

Dengan memahami berbagai aspek gharim, kita dapat menyalurkan zakat secara tepat sasaran. Zakat untuk gharim bukan hanya membantu mereka melunasi utang, tetapi juga membantu mereka keluar dari kesulitan ekonomi dan sosial. Dengan demikian, zakat dapat berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Fisabilillah

Fisabilillah merupakan salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Fisabilillah adalah orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka berhak menerima zakat karena perjuangan mereka bermanfaat bagi umat Islam secara keseluruhan.

  • Mujahid

    Mujahid adalah orang yang berjuang melawan musuh-musuh Islam di medan perang. Mereka berhak menerima zakat untuk membiayai kebutuhan perang, seperti senjata, makanan, dan transportasi.

  • Da’i

    Da’i adalah orang yang berjuang menyebarkan ajaran Islam. Mereka berhak menerima zakat untuk membiayai kegiatan dakwah, seperti ceramah, pengajian, dan penerbitan buku.

  • Thullabul Ilmi

    Thullabul ilmi adalah orang yang berjuang menuntut ilmu agama. Mereka berhak menerima zakat untuk membiayai pendidikan mereka, seperti biaya sekolah, buku, dan tempat tinggal.

  • Pembela Kebenaran

    Pembela kebenaran adalah orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan. Mereka berhak menerima zakat untuk membiayai perjuangan mereka, seperti biaya advokasi, kampanye, dan aksi sosial.

Dengan memahami berbagai aspek fisabilillah, kita dapat menyalurkan zakat secara tepat sasaran. Zakat untuk fisabilillah tidak hanya membantu mereka berjuang di jalan Allah, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan Islam dan kesejahteraan umat manusia. Dengan demikian, zakat dapat menjadi instrumen penting dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab.

Ibnu sabil

Ibnu sabil merupakan salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Ibnu sabil adalah orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal. Mereka berhak menerima zakat untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan, seperti makanan, minuman, dan transportasi.

  • Jenis Perjalanan

    Ibnu sabil mencakup berbagai jenis perjalanan, seperti perjalanan haji, perjalanan bisnis, dan perjalanan untuk mencari ilmu. Selama perjalanan tersebut, mereka mungkin mengalami kesulitan keuangan yang membuat mereka kehabisan bekal.

  • Kehilangan Harta

    Ibnu sabil juga dapat mencakup orang yang kehilangan harta benda selama perjalanan, seperti karena kecelakaan, pencurian, atau bencana alam. Kehilangan harta benda tersebut membuat mereka kesulitan melanjutkan perjalanan dan memenuhi kebutuhan hidup.

  • Dampak Sosial

    Ibnu sabil memiliki dampak sosial yang luas. Mereka dapat menularkan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama perjalanan, membantu perekonomian lokal dengan berdagang, dan mempererat hubungan antar daerah.

  • Kewajiban Umat Islam

    Membantu ibnu sabil merupakan kewajiban umat Islam. Hal ini karena mereka sedang mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Dengan memberikan zakat kepada ibnu sabil, umat Islam dapat meringankan beban mereka dan membantu mereka melanjutkan perjalanan.

Dengan memahami berbagai aspek ibnu sabil, kita dapat menyalurkan zakat secara tepat sasaran. Zakat untuk ibnu sabil tidak hanya membantu mereka memenuhi kebutuhan selama perjalanan, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan sosial dan ekonomi. Dengan demikian, zakat dapat menjadi instrumen penting dalam membangun masyarakat yang saling membantu dan mendukung.

Pertanyaan Umum tentang Golongan yang Berhak Menerima Zakat

Berikut adalah beberapa pertanyaan umum dan jawabannya tentang golongan yang berhak menerima zakat:

Pertanyaan 1: Siapa saja yang termasuk golongan fakir?

Jawaban: Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pertanyaan 2: Apa perbedaan antara miskin dan fakir?

Jawaban: Miskin adalah orang yang memiliki harta, tetapi hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan fakir adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak mampu bekerja.

Pertanyaan 3: Apakah amil berhak menerima zakat?

Jawaban: Ya, amil berhak menerima zakat karena mereka bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat.

Pertanyaan 4: Kapan mualaf berhak menerima zakat?

Jawaban: Mualaf berhak menerima zakat setelah mereka masuk Islam.

Pertanyaan 5: Apa saja kriteria riqab yang berhak menerima zakat?

Jawaban: Riqab yang berhak menerima zakat adalah budak atau hamba sahaya yang belum merdeka.

Pertanyaan 6: Apakah utang yang boleh dilunasi dengan zakat hanya utang produktif?

Jawaban: Tidak, utang yang boleh dilunasi dengan zakat bukan hanya utang produktif, tetapi juga utang konsumtif, utang kematian, dan utang medis.

Demikianlah beberapa pertanyaan umum tentang golongan yang berhak menerima zakat. Dengan memahami pertanyaan-pertanyaan ini, diharapkan dapat membantu kita dalam menyalurkan zakat kepada orang yang tepat.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang tata cara penyaluran zakat yang benar agar zakat yang kita berikan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi penerimanya.

Tips Menyalurkan Zakat Secara Tepat

Setelah memahami golongan yang berhak menerima zakat, langkah selanjutnya adalah menyalurkan zakat secara tepat agar memberikan manfaat yang optimal bagi penerimanya. Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan:

Tip 1: Ketahui Kriteria Penerima Zakat

Pastikan bahwa penerima zakat yang dipilih sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil.

Tip 2: Verifikasi Data Penerima

Lakukan verifikasi data penerima zakat untuk memastikan bahwa mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta surat keterangan dari RT/RW atau lembaga terkait.

Tip 3: Salurkan Langsung ke Penerima

Salurkan zakat langsung kepada penerima yang telah diverifikasi datanya. Hindari memberikan zakat melalui perantara yang tidak jelas atau tidak terpercaya.

Tip 4: Perhatikan Jumlah Zakat

Perhatikan jumlah zakat yang disalurkan sesuai dengan ketentuan syariat. Besarnya zakat yang dikeluarkan adalah 2,5% dari harta yang dimiliki.

Tip 5: Dokumentasikan Penyaluran Zakat

Dokumentasikan penyaluran zakat dengan membuat catatan yang jelas, termasuk nama penerima, jumlah zakat yang diberikan, dan tanggal penyaluran. Dokumentasi ini dapat bermanfaat untuk audit atau sebagai bukti penyaluran zakat.

Tip 6: Salurkan Zakat Melalui Lembaga Terpercaya

Jika kesulitan menyalurkan zakat secara langsung, dapat disalurkan melalui lembaga terpercaya seperti Baznas atau lembaga amil zakat lainnya.

Tip 7: Utamakan Penerima yang Paling Membutuhkan

Dalam menyalurkan zakat, utamakan penerima yang paling membutuhkan agar zakat yang diberikan dapat memberikan dampak yang lebih besar.

Tip 8: Salurkan Zakat dengan Ikhlas

Niatkan penyaluran zakat karena Allah SWT dan tidak mengharapkan imbalan apapun. Dengan demikian, zakat yang diberikan akan lebih berkah dan bermanfaat.

Dengan mengikuti tips di atas, diharapkan penyaluran zakat dapat dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan manfaat yang optimal bagi penerimanya. Penyaluran zakat yang tepat tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pemberi zakat karena dapat meningkatkan ketakwaan dan membersihkan harta.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang hikmah dan manfaat berzakat bagi pemberi dan penerima zakat. Hikmah dan manfaat ini menjadi motivasi utama bagi umat Islam untuk menunaikan kewajiban zakatnya.

Kesimpulan

Pembahasan tentang golongan yang berhak menerima zakat dalam artikel ini memberikan beberapa pemahaman penting. Pertama, golongan yang berhak menerima zakat berjumlah delapan, yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil. Masing-masing golongan memiliki kriteria dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Kedua, penyaluran zakat kepada golongan yang berhak memiliki manfaat yang besar, baik bagi pemberi maupun penerima zakat. Bagi pemberi zakat, penyaluran zakat dapat membersihkan harta dan meningkatkan ketakwaan. Bagi penerima zakat, penyaluran zakat dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup, mengembangkan usaha ekonomi, dan meringankan beban sosial.

Oleh karena itu, penyaluran zakat merupakan kewajiban yang sangat penting bagi umat Islam. Dengan menyalurkan zakat kepada golongan yang berhak, kita dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan tatanan sosial yang lebih adil dan harmonis.



Artikel Terkait

Bagikan:

Nur Jannah

Halo, Perkenalkan nama saya Nur. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..

Artikel Terbaru