Panduan Lengkap Ketentuan Salat Tarawih untuk Ibadah Tarawih yang Benar

Nur Jannah


Panduan Lengkap Ketentuan Salat Tarawih untuk Ibadah Tarawih yang Benar

Ketentuan salat tarawih adalah seperangkat aturan yang mengatur pelaksanaan salat tarawih. Salat tarawih adalah salat sunah yang dikerjakan pada bulan Ramadan, setelah salat Isya dan sebelum salat Witir. Salat tarawih biasanya dikerjakan secara berjamaah di masjid atau musala.

Salat tarawih memiliki banyak manfaat, di antaranya: melatih kesabaran dan kekhusyukan, mempererat ukhuwah islamiyah, dan sebagai sarana untuk meraih pahala di bulan Ramadan. Salat tarawih juga memiliki sejarah panjang, dan telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada awalnya, salat tarawih dikerjakan dengan jumlah rakaat yang sedikit, namun seiring waktu jumlah rakaat salat tarawih bertambah menjadi 20 rakaat.

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang ketentuan salat tarawih, termasuk jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan tata cara pengerjaannya. Kita juga akan membahas tentang sejarah perkembangan salat tarawih dan manfaat-manfaatnya.

Ketentuan Salat Tarawih

Ketentuan salat tarawih merupakan aspek penting yang mengatur pelaksanaan salat sunah ini selama bulan Ramadan. Berikut adalah 9 ketentuan utama salat tarawih:

  • Jumlah rakaat: Umumnya 20 rakaat
  • Waktu pelaksanaan: Setelah salat Isya
  • Hukumnya: Sunnah muakkad
  • Tata cara: Dikerjakan secara berjamaah
  • Tempat pelaksanaan: Masjid atau musala
  • Rakaat witir: Dikerjakan setelah salat tarawih
  • Niat: Niat salat tarawih karena Allah SWT
  • Imam: Memimpin salat tarawih
  • Makmum: Mengikuti salat tarawih

Ketentuan-ketentuan di atas saling terkait dan membentuk tata cara pelaksanaan salat tarawih yang benar. Jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan tata cara pengerjaan yang sesuai sunah akan membuat salat tarawih menjadi lebih bermakna dan mendapatkan pahala yang lebih besar. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami dan menjalankan ketentuan salat tarawih dengan baik.

Jumlah Rakaat

Jumlah rakaat dalam salat tarawih merupakan salah satu ketentuan penting yang perlu diperhatikan. Menurut jumhur ulama, jumlah rakaat salat tarawih adalah 20 rakaat, yang dikerjakan dalam 10 salam.

  • Jumlah Rakaat dalam Satu Salam

    Dalam satu salam, salat tarawih dikerjakan sebanyak 2 rakaat. Setelah menyelesaikan 2 rakaat, dilakukan salam.

  • Jumlah Salam

    Jumlah salam dalam salat tarawih adalah 10 salam, yang berarti ada 10 kali salam dilakukan setelah menyelesaikan 2 rakaat.

  • Rakaat Witir

    Setelah menyelesaikan 20 rakaat salat tarawih, dilanjutkan dengan salat witir sebanyak 3 rakaat. Salat witir dikerjakan setelah salam terakhir dari salat tarawih.

  • Jumlah Keseluruhan

    Dengan demikian, jumlah keseluruhan rakaat dalam salat tarawih adalah 23 rakaat, terdiri dari 20 rakaat salat tarawih dan 3 rakaat salat witir.

Jumlah rakaat dalam salat tarawih ini didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW. Beliau pernah mengerjakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat, sebagaimana diriwayatkan oleh beberapa sahabat, seperti Aisyah, Ali, dan Ibnu Abbas. Jumlah rakaat ini juga sesuai dengan pendapat mayoritas ulama, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad.

Waktu Pelaksanaan

Salah satu ketentuan penting dalam salat tarawih adalah waktu pelaksanaannya, yaitu setelah salat Isya. Ketentuan ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan hikmah dan tujuan utama salat tarawih itu sendiri.

Salat Isya merupakan salat fardhu yang dikerjakan pada waktu malam. Setelah salat Isya, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunnah, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan salat tarawih. Salat tarawih dikerjakan setelah salat Isya karena waktu tersebut dianggap sebagai waktu yang penuh berkah dan ketenangan.

Selain itu, mengerjakan salat tarawih setelah salat Isya juga memberikan manfaat dari sisi kesehatan. Salat tarawih dapat membantu melancarkan peredaran darah dan melatih pernapasan. Gerakan-gerakan dalam salat tarawih juga dapat membantu meregangkan otot-otot yang tegang setelah seharian beraktivitas.

Dalam praktiknya, salat tarawih biasanya dimulai sekitar satu jam setelah salat Isya. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu istirahat bagi jamaah setelah salat Isya dan mempersiapkan diri untuk salat tarawih.

Hukumnya

Salat tarawih hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Ketentuan ini menjadi salah satu landasan utama dalam pelaksanaan salat tarawih. Sunnah muakkad memiliki kedudukan yang tinggi dalam ajaran Islam, di bawah kewajiban (fardhu) dan di atas sunnah biasa.

Status hukum sunnah muakkad pada salat tarawih menunjukkan bahwa mengerjakan salat tarawih sangat dianjurkan dan mendapatkan pahala yang besar. Bahkan, beberapa ulama berpendapat bahwa meninggalkan salat tarawih tanpa alasan yang syar’i hukumnya makruh.

Ketentuan sunnah muakkad pada salat tarawih juga memberikan dampak pada tata cara pelaksanaannya. Salat tarawih harus dikerjakan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, baik dari segi jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, maupun tata cara pengerjaannya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pahala yang sempurna dari salat tarawih.

Sebagai contoh, dalam ketentuan salat tarawih disebutkan bahwa jumlah rakaatnya adalah 20 rakaat. Ketentuan ini didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW yang pernah mengerjakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat. Dengan demikian, mengerjakan salat tarawih sebanyak 20 rakaat merupakan salah satu bentuk menjalankan sunnah muakkad pada salat tarawih.

Tata cara

Salah satu ketentuan penting dalam salat tarawih adalah tata cara pengerjaannya yang dilakukan secara berjamaah. Ketentuan ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan hikmah dan tujuan utama salat tarawih itu sendiri.

Salat tarawih adalah salat sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Hal ini karena salat tarawih merupakan salah satu bentuk ibadah sosial yang dapat mempererat ukhuwah islamiyah. Ketika salat tarawih dikerjakan secara berjamaah, akan tercipta suasana kebersamaan dan kekeluargaan yang sangat kental. Para jamaah dapat saling berinteraksi, bersilaturahmi, dan berbagi ilmu agama.

Selain itu, salat tarawih yang dikerjakan secara berjamaah juga akan lebih berkah dan mendapatkan pahala yang lebih besar. Rasulullah SAW bersabda, “Salat berjamaah itu lebih utama dari salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam praktiknya, salat tarawih berjamaah biasanya diimami oleh seorang imam yang memimpin salat. Imam yang baik harus memiliki bacaan Al-Qur’an yang bagus, fasih, dan memiliki pengetahuan agama yang cukup. Para jamaah mengikuti gerakan dan bacaan imam dengan tertib dan khusyuk.

Tempat pelaksanaan

Salah satu ketentuan penting dalam salat tarawih adalah tempat pelaksanaannya, yaitu di masjid atau musala. Ketentuan ini memiliki kaitan erat dengan hikmah dan tujuan utama salat tarawih itu sendiri.

Salat tarawih adalah salat sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Salah satu syarat sah salat berjamaah adalah adanya tempat pelaksanaan yang layak dan bersih. Masjid dan musala merupakan tempat yang paling tepat untuk melaksanakan salat tarawih berjamaah karena memenuhi syarat tersebut.

Selain itu, salat tarawih yang dikerjakan di masjid atau musala akan lebih berkah dan mendapatkan pahala yang lebih besar. Hal ini karena masjid dan musala merupakan tempat yang dikhususkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Di tempat-tempat tersebut, hati lebih mudah khusyuk dan fokus dalam beribadah.

Dalam praktiknya, salat tarawih biasanya dikerjakan di masjid-masjid besar yang menampung banyak jamaah. Namun, bagi masyarakat yang tinggal jauh dari masjid, salat tarawih dapat dikerjakan di musala-musala yang lebih kecil. Yang terpenting, tempat pelaksanaan salat tarawih haruslah bersih, layak, dan memenuhi syarat untuk salat berjamaah.

Dengan demikian, ketentuan tempat pelaksanaan salat tarawih di masjid atau musala merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Dengan melaksanakan salat tarawih di tempat yang tepat, umat Islam dapat memperoleh pahala yang lebih besar dan merasakan kekhusyukan dalam beribadah.

Rakaat Witir

Rakaat witir merupakan salah satu ketentuan penting dalam salat tarawih. Rakaat witir dikerjakan setelah menyelesaikan 20 rakaat salat tarawih. Ketentuan ini didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW yang selalu mengerjakan salat witir setelah salat tarawih.

  • Jumlah Rakaat

    Salat witir dikerjakan sebanyak 3 rakaat. Jumlah rakaat ini sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW dan merupakan jumlah minimal untuk salat witir.

  • Tata Cara Pengerjaan

    Salat witir dikerjakan dengan cara yang sama seperti salat sunnah lainnya. Namun, pada rakaat terakhir, terdapat tambahan doa qunut.

  • Waktu Pelaksanaan

    Salat witir dikerjakan setelah menyelesaikan 20 rakaat salat tarawih dan sebelum salam terakhir. Waktu pelaksanaan salat witir ini didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW.

  • Hukumnya

    Salat witir hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Meninggalkan salat witir tanpa alasan yang syar’i hukumnya makruh.

Dengan melaksanakan salat witir setelah salat tarawih, umat Islam dapat menyempurnakan ibadah salat tarawihnya. Salat witir juga memiliki banyak manfaat, di antaranya: mengampuni dosa-dosa kecil, mencegah mimpi buruk, dan melapangkan rezeki.

Niat

Niat merupakan salah satu rukun salat yang sangat penting, termasuk dalam salat tarawih. Niat salat tarawih karena Allah SWT artinya mengerjakan salat tarawih semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, bukan karena tujuan duniawi atau riya’.

  • Ikhlas

    Salat tarawih harus dikerjakan dengan ikhlas, yaitu hanya karena Allah SWT. Jangan terpengaruh oleh pujian atau pandangan orang lain.

  • Mengharap Ridha Allah SWT

    Niat salat tarawih harus diniatkan untuk mengharapkan ridha Allah SWT, bukan pahala atau imbalan duniawi.

  • Menghindari Riya’

    Riya’ adalah memperlihatkan ibadah kepada orang lain agar dipuji. Hindari niat salat tarawih untuk pamer atau mencari pujian.

  • Meneladani Rasulullah SAW

    Rasulullah SAW selalu mengerjakan salat tarawih dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Kita harus meneladani beliau dalam beribadah.

Niat salat tarawih yang benar akan mempengaruhi kualitas ibadah kita. Salat tarawih yang dikerjakan dengan niat yang ikhlas akan lebih bermakna dan mendapatkan pahala yang lebih besar. Sebaliknya, salat tarawih yang dikerjakan dengan niat yang salah akan mengurangi pahala bahkan bisa menjadi sia-sia.

Imam

Dalam ketentuan salat tarawih, peran imam sangatlah penting. Imam adalah orang yang memimpin salat tarawih dan menjadi panutan bagi makmum yang mengikutinya. Imam yang baik akan melaksanakan salat tarawih sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, baik dari segi bacaan, gerakan, maupun tata cara lainnya.

Pemilihan imam dalam salat tarawih biasanya dilakukan secara bergilir. Setiap malam, seorang jamaah yang memenuhi syarat akan dipilih untuk menjadi imam. Syarat menjadi imam antara lain: berjenis kelamin laki-laki, baligh, berakal, dan mengetahui tata cara salat tarawih dengan baik.

Kepemimpinan imam dalam salat tarawih memiliki pengaruh yang besar terhadap kualitas salat tarawih yang dikerjakan. Imam yang baik akan membuat salat tarawih menjadi lebih khusyuk dan bermakna. Sebaliknya, imam yang kurang baik dapat mengurangi kekhusyukan dan pahala salat tarawih.

Oleh karena itu, dalam memilih imam salat tarawih, sebaiknya dipilih orang yang memenuhi syarat dan memiliki kemampuan yang baik dalam memimpin salat. Dengan demikian, salat tarawih yang dikerjakan akan lebih sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dan mendapatkan pahala yang lebih besar.

Makmum

Dalam ketentuan salat tarawih, makmum memiliki peran yang sangat penting. Makmum adalah orang yang mengikuti salat tarawih yang dipimpin oleh imam. Peran makmum adalah untuk mengikuti gerakan dan bacaan imam dengan baik dan benar. Dengan mengikuti salat tarawih dengan baik, makmum dapat memperoleh pahala yang sama dengan imam.

Ketentuan salat tarawih mengatur tata cara pelaksanaan salat tarawih, termasuk tata cara yang harus diikuti oleh makmum. Misalnya, makmum harus mengikuti jumlah rakaat yang dikerjakan oleh imam, mengikuti gerakan ruku’ dan sujud imam, serta membaca doa qunut jika imam membaca doa qunut. Dengan mengikuti ketentuan salat tarawih, makmum dapat memastikan bahwa salat tarawih yang dikerjakannya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

Dalam praktiknya, makmum harus mengikuti salat tarawih dengan tertib dan khusyuk. Makmum tidak boleh berbicara atau melakukan gerakan yang dapat mengganggu kekhusyukan salat. Makmum juga harus menjaga saf agar tetap rapi dan tidak mengganggu makmum lainnya. Dengan mengikuti salat tarawih dengan baik, makmum dapat menciptakan suasana salat tarawih yang khusyuk dan bermakna.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ketentuan Salat Tarawih

Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban seputar ketentuan salat tarawih yang sering ditanyakan.

Pertanyaan 1: Berapa jumlah rakaat salat tarawih?

Jawaban: Jumlah rakaat salat tarawih adalah 20 rakaat, dikerjakan dalam 10 salam.

Pertanyaan 2: Kapan waktu pelaksanaan salat tarawih?

Jawaban: Salat tarawih dilaksanakan setelah salat Isya.

Pertanyaan 3: Apakah hukum mengerjakan salat tarawih?

Jawaban: Salat tarawih hukumnya sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Pertanyaan 4: Bagaimana tata cara mengerjakan salat tarawih?

Jawaban: Salat tarawih dikerjakan secara berjamaah, dengan mengikuti gerakan dan bacaan imam.

Pertanyaan 5: Di mana tempat pelaksanaan salat tarawih?

Jawaban: Salat tarawih dilaksanakan di masjid atau musala.

Pertanyaan 6: Apakah ada salat witir setelah salat tarawih?

Jawaban: Ya, setelah salat tarawih dikerjakan salat witir sebanyak 3 rakaat.

Demikianlah beberapa pertanyaan dan jawaban seputar ketentuan salat tarawih. Semoga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang ibadah salat tarawih.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang hikmah dan manfaat melaksanakan salat tarawih.

Tips Melaksanakan Salat Tarawih dengan Benar

Untuk melaksanakan salat tarawih dengan benar dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, berikut ini adalah beberapa tips yang dapat Anda ikuti:

Tip 1: Pastikan niat yang benar. Niatkan salat tarawih semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, bukan karena tujuan duniawi atau riya’.

Tip 2: Berjamaahlah di masjid atau musala. Salat tarawih sunnah dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau musala.

Tip 3: Ikuti gerakan dan bacaan imam dengan baik. Sebagai makmum, pastikan untuk mengikuti gerakan dan bacaan imam dengan benar dan tertib.

Tip 4: Khusyuk dan hindari hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan salat. Jaga kekhusyukan salat dengan menghindari berbicara, bergerak berlebihan, atau melakukan hal-hal lain yang dapat mengganggu kekhusyukan salat.

Tip 5: Sempurnakan salat tarawih dengan salat witir. Setelah menyelesaikan salat tarawih, jangan lupa untuk mengerjakan salat witir sebanyak 3 rakaat.

Dengan mengikuti tips-tips di atas, Anda dapat melaksanakan salat tarawih dengan benar dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, Anda dapat memperoleh pahala yang lebih besar dan merasakan kekhusyukan dalam beribadah.

Tips-tips di atas akan membantu Anda dalam melaksanakan salat tarawih dengan baik dan benar. Dengan melaksanakan salat tarawih dengan baik, Anda dapat memperoleh manfaat yang besar, baik dari sisi spiritual maupun kesehatan.

Kesimpulan

Salat tarawih merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan selama bulan Ramadan. Pelaksanaan salat tarawih diatur dengan ketentuan-ketentuan tertentu, seperti jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan tata cara pengerjaan. Dengan memahami dan menjalankan ketentuan salat tarawih dengan baik, kita dapat memperoleh pahala yang lebih besar dan merasakan kekhusyukan dalam beribadah.

Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan salat tarawih antara lain: jumlah rakaat sebanyak 20 rakaat, dikerjakan secara berjamaah setelah salat Isya, dan diakhiri dengan salat witir sebanyak 3 rakaat. Ketentuan-ketentuan ini didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW dan memiliki hikmah serta manfaat yang besar bagi umat Islam.

Dengan melaksanakan salat tarawih dengan baik dan benar, kita dapat meningkatkan kualitas ibadah kita di bulan Ramadan. Marilah kita jadikan bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.



Artikel Terkait

Bagikan:

Nur Jannah

Halo, Perkenalkan nama saya Nur. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..

Artikel Terbaru