Pengertian Zakat: Panduan Lengkap Bahasa dan Istilah

Nur Jannah


Pengertian Zakat: Panduan Lengkap Bahasa dan Istilah

Zakat secara bahasa berarti “suci”, “bersih”, atau “tumbuh”. Sedangkan menurut istilah syara’, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat tertentu untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya. Contohnya, seorang muslim yang memiliki harta senilai Rp 100.000.000,- wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%, yaitu Rp 2.500.000,-.

Zakat memiliki peran penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Manfaat zakat antara lain: membersihkan harta, menumbuhkan sifat dermawan, dan membantu fakir miskin. Dalam sejarah Islam, zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Zakat pertama kali difardhukan pada tahun kedua hijriyah.

Pada artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang pengertian zakat, jenis-jenis zakat, syarat wajib zakat, dan cara menghitung zakat. Selain itu, kita juga akan mengulas sejarah dan perkembangan zakat dalam Islam.

Pengertian Zakat Menurut Bahasa dan Istilah

Dalam kajian Islam, pengertian zakat merupakan aspek krusial yang perlu dipahami secara komprehensif. Berikut adalah 8 aspek penting terkait pengertian zakat menurut bahasa dan istilah:

  • Bahasa: Suci, bersih, atau tumbuh
  • Istilah: Harta tertentu wajib dikeluarkan untuk golongan berhak
  • Hukum: Wajib bagi muslim yang memenuhi syarat
  • Tujuan: Membersihkan harta, menumbuhkan sifat dermawan, membantu fakir miskin
  • Syarat: Kepemilikan harta, nisab, haul
  • Jenis: Zakat fitrah, zakat mal
  • Penerima: Fakir, miskin, amil zakat, dan lain-lain
  • Sejarah: Difardhukan pada tahun ke-2 Hijriyah

Aspek-aspek tersebut saling berkaitan dan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang zakat. Misalnya, pengertian bahasa “suci” menunjukkan bahwa zakat berfungsi membersihkan harta, sedangkan pengertian istilah “wajib dikeluarkan” menegaskan kewajiban setiap muslim untuk menunaikan zakat. Pemahaman tentang syarat, jenis, dan penerima zakat juga penting untuk memastikan penyaluran zakat yang tepat sasaran. Selain itu, mengetahui sejarah zakat membantu kita memahami perkembangan dan peran pentingnya dalam ajaran Islam.

Bahasa

Dalam pengertian zakat menurut bahasa, aspek “suci, bersih, atau tumbuh” memiliki makna dan implikasi yang mendalam. Ketiga istilah ini saling berkaitan dan mencerminkan hakikat zakat sebagai ibadah yang bertujuan membersihkan harta, menyucikan jiwa, dan menumbuhkan keberkahan.

  • Kesucian: Zakat dipandang sebagai cara untuk menyucikan harta dari hak orang lain yang mungkin telah tercampur di dalamnya. Dengan mengeluarkan zakat, seorang muslim diharapkan terbebas dari dosa dan harta yang dimilikinya menjadi lebih berkah.
  • Kebersihan: Zakat juga bermakna membersihkan jiwa dari sifat kikir dan tamak. Ketika seseorang mengeluarkan zakat, ia belajar untuk melepaskan sebagian hartanya demi membantu orang lain, sehingga hatinya menjadi lebih bersih dan terhindar dari penyakit hati.
  • Pertumbuhan: Zakat memiliki dimensi pertumbuhan, baik secara spiritual maupun material. Dengan berzakat, seorang muslim tidak hanya membersihkan hartanya, tetapi juga menanam investasi di akhirat. Selain itu, zakat yang disalurkan kepada fakir miskin dapat membantu mereka keluar dari kemiskinan dan menjadi lebih produktif, sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi di masyarakat.

Aspek “suci, bersih, atau tumbuh” dalam pengertian zakat menurut bahasa menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga memiliki dimensi moral, spiritual, dan sosial yang sangat penting. Dengan memahami makna mendalam dari aspek ini, umat Islam dapat menjalankan ibadah zakat dengan lebih optimal dan merasakan manfaatnya secara menyeluruh.

Istilah

Dalam pengertian zakat menurut istilah, aspek “harta tertentu wajib dikeluarkan untuk golongan berhak” memiliki keterkaitan erat dengan pengertian zakat menurut bahasa. Aspek ini menjelaskan kewajiban umat Islam untuk mengeluarkan sebagian hartanya sebagai bentuk pensucian dan ibadah.

Kewajiban mengeluarkan zakat merupakan konsekuensi dari kepemilikan harta. Harta yang dimaksud dalam pengertian zakat adalah harta yang memenuhi syarat tertentu, seperti telah mencapai nisab (batas minimal) dan telah dimiliki selama satu tahun (haul). Jenis harta yang wajib dizakati meliputi emas, perak, uang, hasil pertanian, hasil perdagangan, dan hewan ternak.

Golongan yang berhak menerima zakat juga telah ditentukan dalam Al-Qur’an. Mereka adalah fakir, miskin, amil zakat, mualaf, hamba sahaya, gharim (orang yang berutang), fisabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah), dan ibnus sabil (musafir yang kehabisan bekal). Dengan menyalurkan zakat kepada golongan tersebut, diharapkan dapat membantu meringankan beban mereka dan menciptakan kesejahteraan sosial.

Pemahaman tentang aspek “harta tertentu wajib dikeluarkan untuk golongan berhak” sangat penting dalam praktik ibadah zakat. Aspek ini menjadi dasar bagi penetapan nisab, jenis harta yang wajib dizakati, dan penyaluran zakat kepada pihak yang berhak. Dengan memahami aspek ini, umat Islam dapat menjalankan kewajiban zakatnya secara benar dan sesuai dengan syariat.

Hukum

Dalam pengertian zakat menurut istilah, aspek “Hukum: Wajib bagi muslim yang memenuhi syarat” memiliki kaitan yang erat dengan kewajiban setiap muslim untuk menunaikan zakat. Aspek ini menjelaskan bahwa zakat merupakan kewajiban yang mengikat bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat tertentu.

  • Syarat Kepemilikan: Wajib zakat hanya berlaku bagi umat Islam yang memiliki harta atau kekayaan yang telah mencapai nisab (batas minimal) tertentu.
  • Syarat Kemampuan: Zakat wajib dikeluarkan oleh muslim yang mampu, dalam arti harta yang dimiliki melebihi kebutuhan pokoknya dan keluarganya.
  • Syarat Kepemilikan Penuh: Harta yang dizakatkan harus dimiliki secara penuh dan tidak dalam status utang atau masih menjadi milik orang lain.
  • Syarat Haul: Harta yang dizakatkan harus telah dimiliki dan dikuasai selama satu tahun penuh (haul).

Dengan memahami aspek “Hukum: Wajib bagi muslim yang memenuhi syarat” dalam pengertian zakat menurut istilah, setiap muslim dapat mengetahui kewajiban zakat yang harus ditunaikan. Aspek ini menjadi dasar penetapan syarat-syarat wajib zakat, sehingga zakat dapat ditunaikan dengan benar dan sesuai dengan syariat Islam.

Tujuan

Dalam pengertian zakat menurut istilah, aspek tujuan memiliki kaitan erat dengan esensi ibadah zakat itu sendiri. Zakat tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban finansial, tetapi juga memiliki tujuan mulia yang sejalan dengan ajaran Islam, yaitu membersihkan harta, menumbuhkan sifat dermawan, dan membantu fakir miskin.

  • Membersihkan Harta
    Zakat berfungsi sebagai sarana untuk membersihkan harta dari hak orang lain yang mungkin telah tercampur di dalamnya. Dengan mengeluarkan zakat, seorang muslim diharapkan terbebas dari dosa dan harta yang dimilikinya menjadi lebih berkah.
  • Menumbuhkan Sifat Dermawan
    Zakat juga bermakna menumbuhkan sifat dermawan dalam diri seorang muslim. Ketika seseorang mengeluarkan zakat, ia belajar untuk melepaskan sebagian hartanya demi membantu orang lain, sehingga hatinya menjadi lebih bersih dan terhindar dari penyakit hati.
  • Membantu Fakir Miskin
    Tujuan utama zakat adalah membantu fakir miskin dan golongan yang membutuhkan lainnya. Dengan menyalurkan zakat kepada mereka, diharapkan dapat meringankan beban hidup mereka dan menciptakan kesejahteraan sosial.

Ketiga tujuan zakat tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Membersihkan harta, menumbuhkan sifat dermawan, dan membantu fakir miskin merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang. Dengan memahami tujuan zakat secara mendalam, umat Islam dapat menjalankan ibadah zakat dengan lebih optimal dan merasakan manfaatnya secara lahir maupun batin.

Syarat

Dalam pengertian zakat menurut bahasa dan istilah, syarat kepemilikan harta, nisab, dan haul memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Ketiga syarat ini menjadi dasar penetapan kewajiban zakat bagi seorang muslim.

Kepemilikan harta merupakan syarat dasar wajib zakat. Harta yang dimaksud adalah harta yang dimiliki secara penuh dan tidak dalam status utang atau masih menjadi milik orang lain. Nisab adalah batas minimal harta yang wajib dizakatkan. Penetapan nisab bertujuan untuk memastikan bahwa zakat hanya diwajibkan kepada mereka yang memiliki kelebihan harta dan mampu mengeluarkannya. Haul adalah jangka waktu kepemilikan harta yang telah mencapai satu tahun penuh. Syarat haul berfungsi untuk mencegah seseorang menghindari kewajiban zakat dengan cara menjual hartanya sebelum mencapai waktu yang ditentukan.

Ketiga syarat ini merupakan implementasi dari pengertian zakat menurut bahasa dan istilah. Zakat yang berarti “suci” dan “bersih” mengharuskan harta yang dizakatkan adalah harta yang halal dan telah memenuhi syarat kepemilikan, nisab, dan haul. Dengan demikian, zakat dapat benar-benar berfungsi sebagai sarana pembersihan harta dan penyucian jiwa.

Secara praktis, pemahaman tentang syarat zakat ini sangat penting dalam praktik ibadah zakat. Setiap muslim wajib memeriksa harta yang dimilikinya, apakah telah memenuhi syarat kepemilikan, nisab, dan haul. Jika ketiga syarat tersebut telah terpenuhi, maka wajib hukumnya untuk mengeluarkan zakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jenis

Dalam pengertian zakat menurut bahasa dan istilah, aspek “Jenis: Zakat Fitrah, Zakat Mal” memiliki keterkaitan yang erat dengan pengkategorian kewajiban zakat berdasarkan jenis harta yang dimiliki. Aspek ini menjelaskan bahwa zakat tidak hanya wajib dikeluarkan dari jenis harta tertentu saja, melainkan terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu zakat fitrah dan zakat mal.

  • Zakat Fitrah

    Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim menjelang Hari Raya Idulfitri. Zakat ini wajib ditunaikan dalam bentuk makanan pokok, seperti beras atau gandum, dengan kadar tertentu untuk setiap jiwa. Tujuan zakat fitrah adalah untuk menyucikan diri dari dosa-dosa kecil dan kesalahan yang dilakukan selama bulan Ramadhan, sekaligus menjadi bentuk sedekah kepada fakir miskin.

  • Zakat Mal

    Zakat mal adalah zakat yang wajib dikeluarkan dari jenis harta tertentu yang telah mencapai nisab (batas minimal) dan haul (kepemilikan selama satu tahun). Jenis harta yang wajib dizakati antara lain emas, perak, uang, hasil pertanian, hasil perdagangan, dan hewan ternak. Tujuan zakat mal adalah untuk membersihkan harta dari hak orang lain yang mungkin telah tercampur di dalamnya, sekaligus membantu fakir miskin dan golongan yang membutuhkan lainnya.

Pembagian zakat menjadi dua jenis ini menunjukkan bahwa ajaran zakat dalam Islam bersifat komprehensif dan mencakup berbagai aspek harta yang dimiliki oleh umat Islam. Zakat fitrah merupakan kewajiban yang bersifat umum dan wajib ditunaikan oleh setiap muslim, sedangkan zakat mal merupakan kewajiban yang lebih spesifik dan hanya wajib ditunaikan oleh mereka yang memiliki harta yang telah mencapai nisab dan haul. Dengan memahami jenis-jenis zakat ini, umat Islam dapat menjalankan kewajiban zakatnya dengan benar dan sesuai dengan syariat Islam.

Penerima

Dalam pengertian zakat menurut bahasa dan istilah, aspek “Penerima: Fakir, Miskin, Amil Zakat, dan Lain-lain” memiliki keterkaitan yang erat dengan tujuan dan hikmah pensyariatan zakat itu sendiri. Zakat tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban finansial, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan yang sangat penting. Penerima zakat merupakan pihak-pihak yang berhak menerima manfaat dari penyaluran zakat, sehingga keberadaan mereka menjadi komponen krusial dalam pengertian zakat secara menyeluruh.

Penyaluran zakat kepada fakir dan miskin merupakan wujud nyata dari prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial dalam Islam. Zakat berfungsi sebagai mekanisme pemerataan pendapatan dan pengentasan kemiskinan, sehingga kesenjangan ekonomi dalam masyarakat dapat diminimalisir. Selain itu, penyaluran zakat kepada amil zakat, mualaf, hamba sahaya, gharim, fisabilillah, dan ibnus sabil menunjukkan bahwa zakat tidak hanya terbatas pada bantuan materi, tetapi juga mencakup aspek pemberdayaan, pendidikan, dan dakwah Islam.

Memahami aspek “Penerima: Fakir, Miskin, Amil Zakat, dan Lain-lain” dalam pengertian zakat menurut bahasa dan istilah sangat penting dalam praktik ibadah zakat. Hal ini memastikan bahwa zakat disalurkan kepada pihak-pihak yang benar-benar berhak dan sesuai dengan ketentuan syariat. Dengan demikian, zakat dapat menjalankan fungsinya secara optimal sebagai ibadah yang membersihkan harta, menumbuhkan sifat dermawan, dan membantu fakir miskin, sehingga terwujud masyarakat yang adil, sejahtera, dan bertakwa.

Sejarah

Aspek “Sejarah: Difardhukan pada tahun ke-2 Hijriyah” memiliki kaitan erat dengan pemahaman komprehensif tentang “pengertian zakat menurut bahasa dan istilah”. Sejarah pensyariatan zakat memberikan konteks penting bagi pemaknaan dan praktik zakat dalam ajaran Islam.

  • Waktu Difardhukan

    Zakat difardhukan pada tahun ke-2 Hijriyah, yaitu pada periode awal perkembangan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa zakat merupakan salah satu pilar penting dalam sistem ekonomi dan sosial Islam sejak dini.

  • Konteks Sosial

    Pensyariatan zakat pada masa itu dilatarbelakangi oleh kondisi sosial masyarakat Arab yang masih banyak mengalami kesenjangan ekonomi. Zakat menjadi instrumen untuk mendistribusikan kekayaan dan membantu kaum fakir miskin.

  • Perintah Langsung

    Kewajiban zakat tidak hanya berdasarkan ijtihad atau kesepakatan ulama, melainkan merupakan perintah langsung dari Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

  • Pengaruh Nabi

    Nabi Muhammad SAW memainkan peran penting dalam menyosialisasikan dan menegakkan kewajiban zakat. Beliau secara aktif menyerukan umat Islam untuk menunaikan zakat dan memberikan contoh nyata dalam hal ini.

Pemahaman tentang aspek sejarah pensyariatan zakat membantu kita memahami makna dan tujuan zakat secara lebih mendalam. Zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga merupakan perintah agama yang memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Dengan memahami sejarahnya, kita dapat menjalankan ibadah zakat dengan lebih khusyuk dan sesuai dengan ajaran Islam.

Tanya Jawab Umum tentang Pengertian Zakat Menurut Bahasa dan Istilah

Berikut kami sajikan beberapa pertanyaan umum beserta jawabannya terkait dengan pengertian zakat menurut bahasa dan istilah:

Pertanyaan 1: Apa pengertian zakat menurut bahasa?

Jawaban: Zakat menurut bahasa berasal dari kata “zakaa” yang artinya “suci”, “bersih”, atau “tumbuh”.

Pertanyaan 2: Bagaimana pengertian zakat menurut istilah?

Jawaban: Zakat menurut istilah syara’ adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat tertentu, untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya.

Pertanyaan 3: Apa tujuan zakat?

Jawaban: Zakat bertujuan untuk membersihkan harta, menumbuhkan sifat dermawan, dan membantu fakir miskin.

Pertanyaan 4: Kapan zakat difardhukan?

Jawaban: Zakat difardhukan pada tahun ke-2 Hijriyah.

Pertanyaan 5: Siapa saja yang berhak menerima zakat?

Jawaban: Golongan yang berhak menerima zakat adalah fakir, miskin, amil zakat, mualaf, hamba sahaya, gharim, fisabilillah, dan ibnus sabil.

Pertanyaan 6: Apakah syarat wajib zakat?

Jawaban: Syarat wajib zakat meliputi kepemilikan harta, nisab, dan haul.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai beberapa pertanyaan umum tentang pengertian zakat menurut bahasa dan istilah. Semoga bermanfaat.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih lanjut mengenai jenis-jenis zakat dan tata cara menghitung zakat.

Tips Memahami Pengertian Zakat Menurut Bahasa dan Istilah

Untuk memahami pengertian zakat secara komprehensif, berikut ini beberapa tips yang dapat dipraktikkan:

Tip 1: Kembali pada Sumber Asli

Rujuklah langsung kepada Al-Qur’an dan Al-Hadis untuk mendapatkan definisi zakat yang otentik dan sesuai dengan ajaran Islam.

Tip 2: Pelajari Etimologi Kata “Zakat”

Memahami asal kata “zakaa” dalam bahasa Arab akan memberikan pemahaman mendalam tentang makna hakiki zakat, yaitu “suci” dan “tumbuh”.

Tip 3: Pahami Konsep Harta Tertentu

Zakat hanya wajib dikeluarkan dari jenis harta tertentu yang telah ditentukan dalam syariat Islam, seperti emas, perak, hasil pertanian, dan hewan ternak.

Tip 4: Ketahui Syarat Nisab dan Haul

Zakat wajib dikeluarkan jika harta telah mencapai batas minimal (nisab) dan telah dimiliki selama satu tahun penuh (haul).

Tip 5: Identifikasi Penerima Zakat

Zakat harus disalurkan kepada delapan golongan yang berhak menerimanya, yaitu fakir, miskin, amil zakat, mualaf, hamba sahaya, gharim, fisabilillah, dan ibnus sabil.

Tip 6: Cari Sumber Belajar yang Reputable

Dalam mempelajari zakat, carilah sumber belajar yang kredibel, seperti buku-buku karya ulama terpercaya atau lembaga pendidikan Islam yang diakui.

Tip 7: Diskusikan dengan Ahlinya

Berdiskusi dengan ahli fikih atau ulama dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik terkait zakat.

Tip 8: Praktikkan Ibadah Zakat

Dengan mempraktikkan ibadah zakat, kita akan semakin memahami esensi dan manfaat zakat, baik secara spiritual maupun sosial.

Dengan memahami pengertian zakat secara baik, kita dapat menjalankan ibadah zakat dengan benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Pemahaman ini juga menjadi dasar untuk pembahasan selanjutnya mengenai jenis-jenis zakat dan cara penghitungannya.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas secara detail mengenai jenis-jenis zakat dan tata cara penghitungan zakat.

Kesimpulan

Pembahasan mengenai “pengertian zakat menurut bahasa dan istilah” memberikan beberapa poin penting. Pertama, zakat secara bahasa berarti “suci”, “bersih”, atau “tumbuh”, yang menunjukkan tujuan zakat untuk membersihkan harta dan mensucikan jiwa. Kedua, secara istilah, zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan untuk golongan yang berhak. Zakat memiliki tujuan sosial untuk membantu fakir miskin dan menumbuhkan sifat dermawan.

Dari pengertian tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa zakat memiliki dimensi spiritual dan sosial. Dimensi spiritual berkaitan dengan pensucian harta dan jiwa, sedangkan dimensi sosial berkaitan dengan pemerataan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami pengertian zakat secara mendalam, umat Islam dapat menjalankan ibadah zakat dengan benar dan optimal, sehingga terwujud masyarakat yang adil, sejahtera, dan bertakwa.



Artikel Terkait

Bagikan:

Nur Jannah

Halo, Perkenalkan nama saya Nur. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..

Artikel Terbaru