Rukun Zakat yang Wajib Diketahui, Yuk Cek!

Nur Jannah


Rukun Zakat yang Wajib Diketahui, Yuk Cek!

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Zakat memiliki beberapa rukun yang harus dipenuhi agar zakat tersebut sah, di antaranya adalah adanya harta yang wajib dizakati, nisab, haul, serta adanya orang yang berhak menerima zakat (mustahik).

Zakat memiliki banyak manfaat, baik bagi yang menunaikannya maupun bagi masyarakat secara umum. Bagi yang menunaikan zakat, zakat dapat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir serta menumbuhkan rasa syukur. Bagi masyarakat, zakat dapat membantu meringankan beban kaum dan , serta mendorong pemerataan kesejahteraan.

Dalam sejarah Islam, zakat telah mengalami perkembangan yang signifikan. Pada masa Rasulullah SAW, zakat dikelola oleh Baitul Mal dan didistribusikan secara langsung kepada mustahik. Seiring perkembangan zaman, pengelolaan zakat menjadi lebih terorganisir dan banyak lembaga yang berwenang mengelola zakat, seperti BAZNAS dan LAZ.

Rukun Zakat

Rukun zakat adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar zakat yang ditunaikan menjadi sah. Berikut adalah 10 rukun zakat yang perlu diketahui:

  • Islam
  • Baligh
  • Berakal
  • Merdeka
  • Milik penuh
  • Mencapai nisab
  • Cukup haul
  • Harta berkembang
  • Tidak berutang
  • Bukan kebutuhan pokok

Kesepuluh rukun zakat ini saling berkaitan dan harus dipenuhi secara bersamaan agar zakat yang ditunaikan menjadi sah. Jika salah satu rukun tidak terpenuhi, maka zakat tidak wajib ditunaikan. Misalnya, jika seseorang belum baligh atau tidak berakal, maka ia tidak wajib membayar zakat. Begitu juga jika harta yang dimiliki belum mencapai nisab atau belum cukup haul, maka zakat tidak wajib ditunaikan.

Islam

Islam merupakan salah satu rukun zakat yang sangat penting. Seseorang yang tidak beragama Islam tidak wajib membayar zakat. Ada beberapa aspek penting terkait Islam dalam konteks rukun zakat, di antaranya:

  • Akidah
    Akidah yang benar merupakan dasar dari segala amal ibadah, termasuk zakat. Seseorang yang tidak memiliki akidah yang benar tidak akan tergerak untuk menunaikan zakat.
  • Syariat
    Syariat Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk zakat. Dalam syariat Islam, zakat merupakan ibadah wajib yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat.
  • Ibadah
    Zakat merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim telah memenuhi kewajibannya kepada Allah SWT dan sekaligus membersihkan hartanya.
  • Muamalah
    Zakat juga memiliki aspek muamalah, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia lainnya. Zakat berfungsi untuk mendistribusikan harta dari orang-orang yang mampu kepada orang-orang yang membutuhkan, sehingga dapat menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial.

Dengan demikian, Islam memiliki peran yang sangat penting dalam rukun zakat. Aspek akidah, syariat, ibadah, dan muamalah dalam Islam saling berkaitan dan membentuk dasar kewajiban zakat bagi setiap muslim.

Baligh

Baligh merupakan salah satu rukun zakat yang penting. Seseorang yang belum baligh tidak wajib membayar zakat. Baligh artinya sudah mencapai usia dewasa, yaitu sekitar 15 tahun bagi laki-laki dan 9 tahun bagi perempuan. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat kepada kami, para wanita, ketika kami telah haidh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa kewajiban zakat dimulai ketika seseorang telah mencapai usia baligh. Hal ini karena pada usia tersebut, seseorang telah dianggap mampu untuk mengelola hartanya sendiri dan bertanggung jawab atas kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim.

Baligh merupakan syarat yang sangat penting dalam rukun zakat. Tanpa baligh, seseorang tidak wajib membayar zakat, meskipun ia telah memiliki harta yang mencapai nisab dan cukup haul. Hal ini menunjukkan bahwa baligh merupakan salah satu unsur penting dalam menentukan kewajiban zakat seseorang.

Berakal

Berakal merupakan salah satu rukun zakat yang sangat penting. Seseorang yang tidak berakal tidak wajib membayar zakat. Berakal artinya memiliki kemampuan untuk berpikir dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA:

“Tidak wajib zakat bagi orang gila hingga ia sembuh, dan tidak wajib zakat bagi anak kecil hingga ia baligh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa kewajiban zakat dimulai ketika seseorang telah berakal. Hal ini karena pada saat itu, seseorang telah dianggap mampu untuk memahami kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, termasuk kewajiban membayar zakat.

  • Kemampuan Berpikir

    Kemampuan berpikir merupakan bagian penting dari berakal. Seseorang yang tidak dapat berpikir secara rasional tidak dapat memahami kewajiban zakat dan implikasinya. Misalnya, orang yang mengalami gangguan jiwa atau orang yang sedang mabuk tidak wajib membayar zakat.

  • Kemampuan Membedakan Baik dan Buruk

    Kemampuan membedakan antara yang baik dan yang buruk juga merupakan bagian penting dari berakal. Seseorang yang tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk tidak dapat memahami bahwa zakat adalah ibadah yang wajib ditunaikan. Misalnya, orang yang sedang marah atau orang yang sedang terpengaruh oleh syahwat tidak wajib membayar zakat.

  • Kemampuan Mengelola Harta

    Kemampuan mengelola harta juga merupakan bagian penting dari berakal. Seseorang yang tidak dapat mengelola hartanya dengan baik tidak dapat memenuhi kewajiban zakatnya. Misalnya, orang yang boros atau orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya tidak wajib membayar zakat.

  • Kemampuan Menyadari Kewajiban Zakat

    Kemampuan menyadari kewajiban zakat juga merupakan bagian penting dari berakal. Seseorang yang tidak dapat menyadari bahwa zakat adalah kewajiban yang harus ditunaikan tidak dapat memenuhi kewajiban zakatnya. Misalnya, orang yang tidak tahu tentang zakat atau orang yang tidak mau belajar tentang zakat tidak wajib membayar zakat.

Dengan demikian, berakal merupakan salah satu rukun zakat yang sangat penting. Seseorang yang tidak berakal tidak wajib membayar zakat, karena ia tidak dapat memahami kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim. Aspek-aspek berakal yang telah disebutkan di atas saling berkaitan dan membentuk dasar kewajiban zakat bagi setiap muslim yang berakal.

Merdeka

Merdeka merupakan salah satu rukun zakat yang penting, artinya zakat wajib ditunaikan oleh orang yang merdeka. Merdeka dalam konteks rukun zakat memiliki beberapa aspek, di antaranya:

  • Tidak Menjadi Budak

    Merdeka artinya tidak menjadi budak atau hamba sahaya. Seseorang yang masih dalam status perbudakan tidak wajib membayar zakat, karena hartanya tidak sepenuhnya menjadi miliknya.

  • Tidak Terkekang

    Merdeka artinya tidak terkekang atau terbelenggu. Seseorang yang terkekang atau terbelenggu, seperti berada di penjara atau di bawah tekanan penguasa, tidak wajib membayar zakat, karena ia tidak memiliki kebebasan untuk mengelola hartanya.

  • Berkuasa Penuh atas Harta

    Merdeka artinya berkuasa penuh atas harta. Seseorang yang tidak berkuasa penuh atas hartanya, seperti harta yang diwakafkan atau harta yang disita, tidak wajib membayar zakat, karena ia tidak memiliki hak untuk mendistribusikan hartanya.

  • Tidak Terlilit Utang

    Merdeka artinya tidak terlilit utang. Seseorang yang terlilit utang tidak wajib membayar zakat, karena ia harus memprioritaskan pelunasan utangnya terlebih dahulu.

Dengan demikian, kemerdekaan merupakan aspek penting dalam rukun zakat. Seseorang yang tidak merdeka tidak wajib membayar zakat, karena ia tidak memiliki kebebasan dan kekuasaan penuh atas hartanya. Aspek-aspek kemerdekaan yang telah disebutkan di atas saling berkaitan dan membentuk dasar kewajiban zakat bagi setiap muslim yang merdeka.

Milik Penuh

Milik penuh merupakan salah satu rukun zakat yang penting. Artinya, zakat hanya wajib ditunaikan atas harta yang dimiliki secara penuh oleh seseorang. Kepemilikan penuh dalam konteks rukun zakat memiliki beberapa aspek, di antaranya:

Pertama, harta tersebut harus halal dan diperoleh melalui cara yang baik. Harta yang haram atau diperoleh melalui cara yang tidak baik, seperti mencuri atau merampok, tidak wajib dizakati. Kedua, harta tersebut harus berada dalam kepemilikan seseorang secara penuh, artinya tidak boleh bercampur dengan harta orang lain atau menjadi milik bersama. Ketiga, harta tersebut harus dapat dimanfaatkan dan diambil manfaatnya oleh pemiliknya. Harta yang tidak dapat dimanfaatkan, seperti barang antik yang disimpan di museum, tidak wajib dizakati.

Kepemilikan penuh merupakan komponen penting dari rukun zakat karena menjadi dasar pengenaan kewajiban zakat. Seseorang yang tidak memiliki harta secara penuh tidak wajib membayar zakat, karena ia tidak memiliki hak penuh untuk mendistribusikan hartanya. Misalnya, harta yang diwakafkan atau harta yang disita tidak wajib dizakati, karena harta tersebut tidak sepenuhnya dimiliki oleh seseorang.

Dalam praktiknya, kepemilikan penuh dapat dibuktikan dengan berbagai cara, seperti sertifikat kepemilikan, akta jual beli, atau dokumen resmi lainnya. Pembuktian kepemilikan ini penting untuk memastikan bahwa zakat ditunaikan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Mencapai Nisab

Mencapai nisab merupakan salah satu rukun zakat yang sangat penting. Nisab adalah batas minimal harta yang wajib dizakati. Jika harta yang dimiliki belum mencapai nisab, maka tidak wajib dizakati. Sebaliknya, jika harta yang dimiliki telah mencapai nisab, maka wajib dizakati.

Hubungan antara mencapai nisab dan rukun zakat sangat erat. Mencapai nisab merupakan salah satu syarat wajibnya zakat. Artinya, jika seseorang tidak mencapai nisab, maka ia tidak wajib membayar zakat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Tidak ada zakat pada harta kecuali setelah mencapai nisab.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Nisab zakat berbeda-beda tergantung pada jenis hartanya. Misalnya, nisab zakat emas adalah 85 gram, nisab zakat perak adalah 595 gram, dan nisab zakat uang adalah senilai 85 gram emas. Jika seseorang memiliki harta yang mencapai nisab, maka ia wajib membayar zakat sebesar 2,5% dari harta yang dimilikinya.

Dalam praktiknya, banyak contoh nisab zakat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika seseorang memiliki emas seberat 100 gram, maka ia wajib membayar zakat sebesar 2,5 gram emas. Begitu juga jika seseorang memiliki uang tunai sebesar Rp 100.000.000, maka ia wajib membayar zakat sebesar Rp 2.500.000.

Memahami hubungan antara mencapai nisab dan rukun zakat sangat penting bagi setiap muslim. Hal ini karena zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu. Dengan memahami nisab zakat, setiap muslim dapat mengetahui apakah hartanya sudah wajib dizakati atau belum.

Cukup haul

Cukup haul merupakan salah satu rukun zakat yang penting. Haul artinya setahun. Cukup haul artinya harta yang dimiliki telah mencapai nisab selama satu tahun atau lebih. Hal ini karena zakat merupakan ibadah yang bersifat tahunan. Berikut adalah beberapa aspek penting terkait cukup haul dalam konteks rukun zakat:

  • Kepemilikan Penuh

    Harta yang dizakati harus dimiliki secara penuh selama satu tahun atau lebih. Jika harta tersebut belum dimiliki penuh selama satu tahun, maka tidak wajib dizakati.

  • Tidak Berutang

    Harta yang dizakati tidak boleh sedang dijadikan jaminan utang. Jika harta tersebut sedang dijadikan jaminan utang, maka tidak wajib dizakati.

  • Tidak Digunakan untuk Kebutuhan Pokok

    Harta yang dizakati tidak boleh digunakan untuk kebutuhan pokok, seperti makan, minum, dan tempat tinggal. Jika harta tersebut digunakan untuk kebutuhan pokok, maka tidak wajib dizakati.

  • Harta Berkembang

    Harta yang dizakati harus merupakan harta yang berkembang atau produktif. Harta yang tidak berkembang atau tidak produktif, seperti tanah kosong, tidak wajib dizakati.

Dengan demikian, cukup haul merupakan aspek penting dalam rukun zakat. Harta yang dizakati harus memenuhi syarat cukup haul, yaitu telah dimiliki secara penuh selama satu tahun atau lebih, tidak berutang, tidak digunakan untuk kebutuhan pokok, dan merupakan harta yang berkembang. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka harta tersebut tidak wajib dizakati.

Harta Berkembang

Dalam konteks rukun zakat, harta berkembang merupakan salah satu syarat penting yang harus dipenuhi. Harta berkembang artinya harta yang memiliki potensi untuk bertambah atau berkembang. Harta yang tidak berkembang atau tidak produktif, seperti tanah kosong atau barang antik, tidak termasuk dalam kategori harta berkembang dan tidak wajib dizakati.

Hubungan antara harta berkembang dan rukun zakat sangat erat. Salah satu hikmah disyariatkannya zakat adalah untuk mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi umat Islam. Harta yang dizakatkan akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka dan pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Contoh harta berkembang yang wajib dizakati antara lain emas, perak, uang tunai, saham, dan hasil pertanian. Zakat atas harta-harta ini wajib ditunaikan jika telah mencapai nisab dan cukup haul. Misalnya, jika seseorang memiliki emas seberat 100 gram dan telah dimilikinya selama lebih dari satu tahun, maka ia wajib membayar zakat sebesar 2,5 gram emas.

Memahami hubungan antara harta berkembang dan rukun zakat sangat penting bagi setiap muslim yang ingin menunaikan kewajiban zakatnya dengan benar. Dengan mengetahui harta-harta apa saja yang termasuk kategori harta berkembang dan wajib dizakati, setiap muslim dapat memastikan bahwa zakat yang ditunaikannya sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Tidak berutang

Dalam konteks sebutkan rukun zakat, “tidak berutang” merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Artinya, harta yang akan dizakati tidak boleh sedang dijadikan jaminan utang. Jika harta tersebut sedang dijadikan jaminan utang, maka tidak wajib dizakati. Ketentuan ini didasarkan pada kaidah yang artinya “Lunasi utangmu terlebih dahulu, baru kemudian tunaikan zakat dari hartamu”.

  • Utang yang Diperhitungkan

    Utang yang diperhitungkan dalam rukun zakat adalah utang yang bersifat tetap dan mengikat, seperti utang bank, utang kepada lembaga keuangan, dan utang kepada perorangan yang memiliki bukti yang jelas.

  • Utang yang Tidak Diperhitungkan

    Utang yang tidak diperhitungkan dalam rukun zakat adalah utang yang bersifat sementara dan tidak mengikat, seperti utang harian untuk kebutuhan pokok atau utang yang belum jatuh tempo.

  • Implikasi Tidak Berutang

    Ketentuan tidak berutang dalam rukun zakat memiliki beberapa implikasi, antara lain:

    • Mencegah penumpukan utang yang dapat memberatkan.
    • Memastikan bahwa zakat yang ditunaikan berasal dari harta yang benar-benar dimiliki.
    • Membantu menjaga kestabilan keuangan umat Islam.

Dengan demikian, syarat tidak berutang dalam rukun zakat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan keuangan umat Islam dan memastikan bahwa zakat yang ditunaikan sesuai dengan ketentuan syariat.

Bukan kebutuhan pokok

Hubungan antara “Bukan kebutuhan pokok” dan “sebutkan rukun zakat” sangat erat. Dalam Islam, zakat diwajibkan atas harta yang berlebih, yang tidak termasuk dalam kategori kebutuhan pokok.

“Bukan kebutuhan pokok” merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi agar harta tersebut wajib dizakati. Hal ini karena zakat bertujuan untuk membantu mereka yang membutuhkan, sehingga tidak tepat jika zakat diambil dari harta yang masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok diri sendiri dan keluarga.

Contoh harta yang termasuk kebutuhan pokok antara lain makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan biaya pendidikan. Harta-harta ini dikecualikan dari kewajiban zakat karena diperlukan untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan seseorang.

Memahami hubungan antara “Bukan kebutuhan pokok” dan “sebutkan rukun zakat” sangat penting dalam praktik kehidupan beragama. Hal ini membantu umat Islam untuk membedakan harta yang wajib dizakati dengan harta yang tidak wajib dizakati, sehingga zakat yang ditunaikan sesuai dengan ketentuan syariat dan tepat sasaran.

Pertanyaan Umum tentang Sebutkan Rukun Zakat

Bagian ini berisi daftar tanya jawab umum mengenai sebutkan rukun zakat. Pertanyaan-pertanyaan ini mengantisipasi keraguan yang mungkin timbul dan memberikan klarifikasi lebih lanjut tentang aspek-aspek penting zakat.

Pertanyaan 1: Apa saja rukun zakat?

Rukun zakat meliputi Islam, baligh, berakal, merdeka, milik penuh, mencapai nisab, cukup haul, harta berkembang, tidak berutang, dan bukan kebutuhan pokok.

Pertanyaan 2: Mengapa syarat “tidak berutang” penting dalam rukun zakat?

Syarat “tidak berutang” penting karena zakat harus ditunaikan dari harta yang benar-benar dimiliki. Jika harta tersebut dijadikan jaminan utang, maka tidak termasuk dalam harta yang wajib dizakati.

Pertanyaan 3: Apa saja contoh harta yang termasuk “harta berkembang” yang wajib dizakati?

Contoh harta berkembang yang wajib dizakati antara lain emas, perak, uang tunai, saham, dan hasil pertanian yang memiliki potensi untuk bertambah atau berkembang.

Pertanyaan 4: Bagaimana jika harta yang dimiliki baru mencapai nisab beberapa bulan sebelum haul?

Harta yang baru mencapai nisab beberapa bulan sebelum haul tidak wajib dizakati pada tahun tersebut. Zakat wajib ditunaikan pada tahun berikutnya setelah harta tersebut mencapai nisab dan cukup haul.

Pertanyaan 5: Apakah zakat wajib ditunaikan atas harta yang digunakan untuk usaha atau bisnis?

Ya, zakat wajib ditunaikan atas harta yang digunakan untuk usaha atau bisnis, selama harta tersebut telah memenuhi syarat nisab dan haul. Zakat ditunaikan dari keuntungan usaha atau bisnis tersebut.

Pertanyaan 6: Apa hikmah di balik disyariatkannya zakat?

Hikmah di balik disyariatkannya zakat antara lain untuk membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir, meningkatkan kepedulian sosial, dan membantu pemerataan kesejahteraan umat Islam.

Pertanyaan-pertanyaan umum ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang sebutkan rukun zakat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa zakat yang ditunaikan sesuai dengan ketentuan syariat dan tepat sasaran.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih lanjut tentang tata cara penunaian zakat, termasuk waktu, tempat, dan pihak yang berhak menerima zakat.

Tips Menunaikan Zakat

Setelah memahami rukun zakat, penting untuk mengetahui tips menunaikan zakat dengan benar. Berikut adalah beberapa tips yang dapat diikuti:

Tip 1: Hitung HartaHitunglah seluruh harta yang dimiliki, termasuk harta yang berkembang, tidak berutang, dan bukan kebutuhan pokok.

Tip 2: Pastikan NisabPastikan harta yang dimiliki telah mencapai nisab sesuai dengan jenis hartanya. Misalnya, untuk emas, nisabnya adalah 85 gram.

Tip 3: Perhatikan HaulPerhatikan waktu kepemilikan harta. Zakat wajib ditunaikan jika harta telah dimiliki selama satu tahun atau lebih.

Tip 4: Tunaikan Tepat WaktuTunaikan zakat tepat waktu, yaitu pada bulan Ramadan atau setelahnya. Jangan menunda-nunda penunaian zakat.

Tip 5: Pilih Lembaga TerpercayaPilih lembaga pengelola zakat yang terpercaya dan kredibel untuk menyalurkan zakat. Pastikan lembaga tersebut memiliki izin resmi dan laporan keuangan yang transparan.

Tip 6: Niat yang BenarNiatkan penunaian zakat karena Allah SWT dan untuk membersihkan harta dari sifat kikir.

Tip 7: Tuntaskan KewajibanTunaikan zakat secara tuntas sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan, yaitu 2,5% dari harta yang wajib dizakati.

Tip 8: Dapatkan Bukti PembayaranMinta bukti pembayaran zakat dari lembaga pengelola zakat sebagai tanda bukti penunaian kewajiban.

Tips-tips di atas dapat membantu umat Islam menunaikan zakat dengan benar dan tepat sasaran. Penunaian zakat yang benar akan memberikan manfaat bagi diri sendiri, harta yang dimiliki, dan masyarakat yang membutuhkan.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas tentang hikmah dan manfaat zakat, baik bagi individu maupun masyarakat.

Kesimpulan

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang penting untuk dilaksanakan. Dalam artikel ini, kita telah membahas mengenai “sebutkan rukun zakat”, yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi agar zakat yang ditunaikan menjadi sah. Rukun zakat meliputi Islam, baligh, berakal, merdeka, milik penuh, mencapai nisab, cukup haul, harta berkembang, tidak berutang, dan bukan kebutuhan pokok.

Beberapa poin penting yang saling terkait dalam pembahasan ini adalah:

  1. Zakat merupakan kewajiban yang hanya dibebankan kepada umat Islam yang memenuhi syarat.
  2. Zakat harus ditunaikan dari harta yang halal, berkembang, dan tidak berutang.
  3. Penunaian zakat tepat waktu dan melalui lembaga yang terpercaya akan memastikan bahwa zakat disalurkan kepada mereka yang berhak.

Melaksanakan zakat tidak hanya bermanfaat bagi penerimanya, tetapi juga bagi orang yang menunaikannya. Zakat dapat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir, meningkatkan kepedulian sosial, dan membantu pemerataan kesejahteraan umat Islam. Oleh karena itu, marilah kita tunaikan zakat dengan benar dan ikhlas sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT dan wujud kepedulian kita kepada sesama manusia.



Artikel Terkait

Bagikan:

Nur Jannah

Halo, Perkenalkan nama saya Nur. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..

Artikel Terbaru