Pahami Syarat Sah Berzakat untuk Ibadah yang Sempurna

Nur Jannah


Pahami Syarat Sah Berzakat untuk Ibadah yang Sempurna

Syarat sahnya berzakat adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar zakat yang dikeluarkan dianggap sah dan diterima oleh Allah SWT. Syarat-syarat tersebut meliputi: beragama Islam, baligh atau berakal, merdeka, memiliki harta yang mencapai nisab, dan harta tersebut telah dimiliki selama satu tahun.

Membayar zakat memiliki banyak manfaat, baik bagi pemberi zakat maupun bagi penerimanya. Bagi pemberi zakat, zakat dapat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir dan tamak. Selain itu, zakat juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Bagi penerima zakat, zakat dapat membantu meringankan beban hidup dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Dalam sejarah Islam, zakat telah menjadi salah satu pilar penting dalam sistem ekonomi dan sosial. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, zakat telah diwajibkan bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Pada masa kekhalifahan, zakat dikelola oleh negara dan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pembangunan infrastruktur, kesejahteraan sosial, dan pertahanan negara.

syarat sahnya berzakat adalah

Syarat sahnya berzakat merupakan aspek-aspek krusial yang harus dipenuhi agar zakat yang dikeluarkan dianggap sah dan diterima oleh Allah SWT. Berikut adalah 9 syarat sahnya berzakat:

  • Islam
  • Baligh
  • Merdeka
  • Harta mencapai nisab
  • Harta telah dimiliki selama satu tahun
  • Harta halal
  • Harta bukan untuk kebutuhan pokok
  • Harta tidak dalam keadaan terlilit utang
  • Harta tidak diperoleh dari sumber yang haram

Memenuhi syarat-syarat tersebut sangatlah penting karena zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu. Dengan menunaikan zakat, seorang muslim telah melaksanakan kewajiban agamanya sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan ekonomi umat Islam.

Islam

Islam merupakan syarat pertama dan utama dalam syarat sahnya berzakat. Seseorang yang ingin mengeluarkan zakat haruslah beragama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa zakat merupakan ibadah khusus yang hanya ditujukan bagi umat Islam.

  • Akidah

    Akidah yang benar merupakan dasar dari keislaman seseorang. Seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta meyakini ajaran-ajaran Islam, akan terdorong untuk menunaikan zakat sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

  • Syariat

    Syariat Islam mengatur segala aspek kehidupan seorang muslim, termasuk kewajiban berzakat. Seorang muslim yang taat kepada syariat Islam akan memahami dan menjalankan kewajiban zakat sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

  • Ibadah

    Zakat merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Seorang muslim yang rajin beribadah akan menjadikan zakat sebagai bagian penting dari amalannya.

  • Muamalah

    Muamalah mengatur interaksi sosial dan ekonomi antar sesama muslim. Seorang muslim yang berakhlak mulia dalam muamalah akan terdorong untuk mengeluarkan zakat sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial.

Dari keempat aspek tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam memiliki peran yang sangat penting dalam syarat sahnya berzakat. Seorang muslim yang memenuhi syarat-syarat keislaman, seperti akidah yang benar, menjalankan syariat, rajin beribadah, dan berakhlak mulia dalam muamalah, akan terdorong untuk menunaikan zakat sebagai bentuk pengamalan ajaran Islam dan wujud keimanannya kepada Allah SWT.

Baligh

Baligh merupakan salah satu syarat sahnya berzakat. Istilah baligh secara bahasa berarti “sampai” atau “mencapai”. Dalam konteks syarat sahnya berzakar, baligh diartikan sebagai seseorang yang telah mencapai usia dewasa atau telah mengalami tanda-tanda kedewasaan, baik secara fisik maupun mental.

Dalam hukum Islam, usia baligh seseorang berbeda-beda, tergantung pada jenis kelaminnya. Untuk laki-laki, baligh ditandai dengan keluarnya air mani atau mimpi basah. Sedangkan untuk perempuan, baligh ditandai dengan datangnya haid atau kehamilan.

Baligh merupakan komponen penting dalam syarat sahnya berzakat karena menandakan bahwa seseorang telah memiliki kemampuan berpikir dan bertanggung jawab atas tindakannya. Dengan mencapai usia baligh, seseorang dianggap telah memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup untuk menjalankan kewajiban agamanya, termasuk kewajiban berzakat.

Dalam praktiknya, syarat baligh dalam berzakat sangat penting untuk diperhatikan. Jika seseorang belum baligh, maka ia tidak diwajibkan untuk berzakat, meskipun ia memiliki harta yang telah mencapai nisab. Namun, orang tua atau walinya dapat mengeluarkan zakat atas nama anak yang belum baligh tersebut.

Merdeka

Merdeka merupakan salah satu syarat sahnya berzakat yang berarti bebas dari perbudakan atau penjajahan. Dalam konteks syarat sahnya berzakat, merdeka diartikan sebagai seseorang yang memiliki kebebasan penuh untuk mengelola dan hartanya sendiri.

  • Kepemilikan Harta

    Orang yang merdeka memiliki hak penuh atas hartanya. Ia dapat menggunakan, memanfaatkan, atau membelanjakan hartanya sesuai dengan kehendaknya sendiri, tanpa paksaan atau campur tangan dari pihak lain.

  • Pengelolaan Harta

    Orang yang merdeka berhak mengelola hartanya sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain. Ia dapat menginvestasikan hartanya, mengembangkan usahanya, atau menggunakannya untuk keperluan lain sesuai dengan kebutuhannya.

  • Pembayaran Zakat

    Orang yang merdeka wajib membayar zakat jika hartanya telah mencapai nisab dan haul. Ia dapat memilih untuk membayar zakat sendiri atau melalui lembaga resmi seperti Baznas (Badan Amil Zakat Nasional).

  • Implikasi Sosial

    Syarat merdeka dalam berzakat memiliki implikasi sosial yang luas. Hal ini menunjukkan bahwa zakat hanya diwajibkan bagi orang-orang yang memiliki kebebasan dan kemandirian finansial. Dengan demikian, zakat dapat menjadi instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, syarat merdeka dalam berzakat sangat penting untuk dipenuhi karena menunjukkan bahwa zakat merupakan kewajiban yang hanya dibebankan kepada orang-orang yang memiliki kemampuan finansial dan kebebasan untuk mengelola hartanya sendiri.

Harta mencapai nisab

Harta mencapai nisab merupakan salah satu syarat sahnya berzakat. Nisab adalah batas minimal harta yang wajib dizakati. Jika harta seseorang telah mencapai nisab, maka ia wajib mengeluarkan zakat dari hartanya tersebut.

  • Nisab Emas dan Perak

    Nisab untuk emas adalah 85 gram, sedangkan nisab untuk perak adalah 595 gram. Jika seseorang memiliki emas atau perak yang telah mencapai nisab, maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5% dari total hartanya.

  • Nisab Uang Kertas

    Nisab untuk uang kertas adalah setara dengan nilai nisab emas, yaitu 85 gram emas. Jika seseorang memiliki uang kertas yang telah mencapai nisab, maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5% dari total hartanya.

  • Nisab Hasil Pertanian

    Nisab untuk hasil pertanian adalah 5 wasaq. 1 wasaq setara dengan 60 sha’. Jika seseorang memiliki hasil pertanian yang telah mencapai nisab, maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 5% atau 10% dari total hartanya, tergantung pada jenis tanamannya.

  • Nisab Hewan Ternak

    Nisab untuk hewan ternak berbeda-beda, tergantung pada jenis hewan ternaknya. Misalnya, nisab untuk unta adalah 5 ekor, nisab untuk sapi adalah 30 ekor, dan nisab untuk kambing adalah 40 ekor. Jika seseorang memiliki hewan ternak yang telah mencapai nisab, maka ia wajib mengeluarkan zakat sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Syarat harta mencapai nisab dalam berzakat sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa zakat hanya diwajibkan bagi orang-orang yang memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan telah mencapai nisab yang telah ditentukan. Dengan demikian, zakat dapat menjadi instrumen untuk mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harta telah dimiliki selama satu tahun

Harta telah dimiliki selama satu tahun merupakan salah satu syarat sahnya berzakat. Syarat ini menunjukkan bahwa zakat hanya wajib dikeluarkan dari harta yang telah dimiliki dan dikuasai secara penuh oleh seseorang selama minimal satu tahun atau satu haul.

  • Kepemilikan Penuh

    Harta yang dizakati harus dimiliki secara penuh oleh orang yang akan mengeluarkan zakat. Hal ini berarti harta tersebut bukan pinjaman, titipan, atau hasil curian.

  • Pengelolaan Bebas

    Orang yang akan mengeluarkan zakat harus memiliki kebebasan penuh dalam mengelola hartanya. Ia dapat menggunakan, memanfaatkan, atau membelanjakan hartanya sesuai dengan kehendaknya sendiri.

  • Pertumbuhan Harta

    Syarat kepemilikan selama satu tahun memberikan waktu bagi harta untuk berkembang dan bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya kewajiban bagi orang kaya, tetapi juga bagi orang yang memiliki harta yang terus bertambah.

  • Keadilan Sosial

    Syarat kepemilikan selama satu tahun menciptakan keadilan sosial. Orang yang baru saja memperoleh harta tidak langsung diwajibkan untuk mengeluarkan zakat. Hal ini memberikan mereka waktu untuk menyesuaikan diri dan mengelola hartanya dengan baik.

Dengan demikian, syarat harta telah dimiliki selama satu tahun dalam berzakat sangat penting untuk dipenuhi. Syarat ini memastikan bahwa zakat dikeluarkan dari harta yang benar-benar dimiliki dan dikuasai oleh seseorang, serta memberikan waktu bagi harta tersebut untuk berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Harta halal

Harta halal merupakan salah satu syarat sahnya berzakat. Artinya, zakat hanya wajib dikeluarkan dari harta yang diperoleh melalui cara-cara yang halal dan sesuai dengan syariat Islam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 103:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat hanya boleh dikeluarkan dari harta yang halal. Sebab, harta yang haram tidak dapat digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Selain itu, mengeluarkan zakat dari harta yang halal juga merupakan bentuk rasa syukur dan pengakuan atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Dalam praktiknya, terdapat beberapa cara untuk memastikan bahwa harta yang kita miliki adalah halal. Pertama, dengan bekerja pada pekerjaan yang halal dan sesuai dengan syariat Islam. Kedua, dengan menghindari riba dan segala bentuk transaksi yang dilarang dalam Islam. Ketiga, dengan memastikan bahwa harta yang kita miliki tidak berasal dari hasil korupsi, pencurian, atau pemerasan.

Dengan demikian, memahami hubungan antara harta halal dan syarat sahnya berzakat adalah sangat penting. Sebab, hal ini akan membantu kita untuk memastikan bahwa zakat yang kita keluarkan benar-benar sah dan diterima oleh Allah SWT. Selain itu, hal ini juga akan mendorong kita untuk selalu mencari nafkah melalui cara-cara yang halal dan sesuai dengan syariat Islam.

Harta bukan untuk kebutuhan pokok

Dalam syarat sahnya berzakat, terdapat ketentuan bahwa harta yang dizakatkan haruslah harta yang bukan merupakan kebutuhan pokok. Ketentuan ini memiliki beberapa aspek penting yang perlu dipahami.

  • Harta yang tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar

    Harta yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah harta yang tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan. Harta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar tidak wajib dizakatkan.

  • Harta yang melebihi kebutuhan

    Harta yang bukan untuk kebutuhan pokok juga mencakup harta yang melebihi kebutuhan. Misalnya, seseorang memiliki dua rumah, maka rumah yang kedua termasuk harta yang bukan untuk kebutuhan pokok dan wajib dizakatkan.

  • Harta yang diinvestasikan

    Harta yang diinvestasikan, seperti saham atau deposito, juga termasuk harta yang bukan untuk kebutuhan pokok. Hasil investasi tersebut wajib dizakatkan jika telah mencapai nisab dan haul.

  • Harta yang disimpan

    Harta yang disimpan dalam bentuk emas, perak, atau uang tunai yang tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok juga wajib dizakatkan. Penyimpanan harta tersebut dimaksudkan untuk investasi atau tujuan lainnya yang tidak termasuk kebutuhan pokok.

Dengan memahami aspek-aspek harta yang bukan untuk kebutuhan pokok, kita dapat memastikan bahwa harta yang kita zakatkan benar-benar memenuhi syarat sahnya berzakat. Hal ini penting untuk menjaga keabsahan ibadah zakat kita dan memastikan bahwa zakat yang kita keluarkan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi yang membutuhkan.

Harta tidak dalam keadaan terlilit utang

Dalam syarat sahnya berzakat, terdapat ketentuan bahwa harta yang dizakatkan haruslah harta yang tidak dalam keadaan terlilit utang. Ketentuan ini memiliki beberapa alasan dan implikasi penting.

Salah satu alasannya adalah karena utang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Jika seseorang memiliki utang, maka ia wajib melunasi utangnya sebelum mengeluarkan zakat. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih yang menyatakan, “Utang itu harus didahulukan sebelum sedekah.” Dengan melunasi utang terlebih dahulu, seseorang dapat terbebas dari beban kewajiban dan dapat beribadah dengan hati yang tenang.

Selain itu, harta yang terlilit utang juga tidak memenuhi syarat nisab. Nisab adalah batas minimal harta yang wajib dizakatkan. Jika harta seseorang masih terlilit utang, maka harta tersebut belum mencapai nisab dan tidak wajib dizakatkan. Hal ini karena utang mengurangi nilai harta yang dimiliki seseorang.

Contoh nyata dari ketentuan ini adalah ketika seseorang memiliki harta berupa rumah senilai Rp 500 juta. Namun, ia masih memiliki utang sebesar Rp 200 juta. Dalam hal ini, harta yang dimiliki orang tersebut belum mencapai nisab dan tidak wajib dizakatkan. Sebab, setelah dikurangi utang, nilai harta yang dimilikinya hanya Rp 300 juta.

Dengan demikian, memahami hubungan antara harta yang tidak terlilit utang dan syarat sahnya berzakat sangatlah penting. Hal ini akan membantu kita untuk memastikan bahwa harta yang kita zakatkan benar-benar memenuhi syarat sahnya berzakat. Selain itu, hal ini juga akan mendorong kita untuk memprioritaskan pelunasan utang sebelum bersedekah atau mengeluarkan zakat.

Harta tidak diperoleh dari sumber yang haram

Dalam syarat sahnya berzakat, terdapat ketentuan bahwa harta yang dizakatkan haruslah harta yang tidak diperoleh dari sumber yang haram. Ketentuan ini sangat penting karena zakat merupakan ibadah yang hanya boleh dilakukan dengan harta yang halal dan berkah.

  • Harta yang diperoleh dari cara yang halal

    Harta yang diperoleh dari cara yang halal adalah harta yang diperoleh melalui pekerjaan atau usaha yang dibolehkan syariat Islam. Misalnya, harta yang diperoleh dari berdagang, bertani, atau bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang yang halal.

  • Harta yang tidak diperoleh dari riba

    Riba adalah salah satu sumber harta yang haram. Oleh karena itu, harta yang diperoleh dari riba tidak boleh dizakatkan. Misalnya, harta yang diperoleh dari bunga bank atau pinjaman yang mengandung riba.

  • Harta yang tidak diperoleh dari korupsi

    Korupsi adalah perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Harta yang diperoleh dari korupsi, seperti suap, pungli, atau gratifikasi, tidak boleh dizakatkan. Sebab, harta tersebut diperoleh dengan cara yang bathil dan merugikan orang lain.

  • Harta yang tidak diperoleh dari judi

    Judi adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam. Harta yang diperoleh dari judi, seperti kemenangan dari bermain kartu, lotre, atau taruhan, tidak boleh dizakatkan. Sebab, harta tersebut diperoleh dari cara yang haram dan tidak halal.

Dengan memahami ketentuan harta yang tidak diperoleh dari sumber yang haram, kita dapat memastikan bahwa harta yang kita zakatkan benar-benar memenuhi syarat sahnya berzakat. Selain itu, hal ini juga akan mendorong kita untuk selalu mencari nafkah melalui cara-cara yang halal dan sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian, zakat yang kita keluarkan akan menjadi ibadah yang diterima oleh Allah SWT dan memberikan manfaat yang besar bagi yang membutuhkan.

Tanya Jawab Seputar Syarat Sah Berzakat

Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban umum seputar syarat sah berzakat yang perlu dipahami:

Pertanyaan 1: Apa saja syarat sah berzakat?

Jawaban: Syarat sah berzakat ada 9, yaitu: Islam, baligh, merdeka, harta mencapai nisab, harta telah dimiliki selama satu tahun, harta halal, harta bukan untuk kebutuhan pokok, harta tidak dalam keadaan terlilit utang, dan harta tidak diperoleh dari sumber yang haram.

Pertanyaan 2: Apakah syarat baligh harus dipenuhi oleh laki-laki dan perempuan?

Jawaban: Ya, syarat baligh harus dipenuhi oleh baik laki-laki maupun perempuan.

Pertanyaan 3: Apakah harta yang diperoleh dari utang bisa dizakatkan?

Jawaban: Tidak, harta yang diperoleh dari utang tidak bisa dizakatkan karena masih menjadi kewajiban yang harus dilunasi.

Pertanyaan 4: Apakah zakat bisa dikeluarkan dari harta yang diperoleh dari riba?

Jawaban: Tidak, zakat tidak bisa dikeluarkan dari harta yang diperoleh dari riba karena merupakan sumber harta yang haram.

Pertanyaan 5: Apakah syarat sah berzakat berlaku untuk semua jenis harta?

Jawaban: Ya, syarat sah berzakat berlaku untuk semua jenis harta, seperti emas, perak, uang kertas, hasil pertanian, dan hewan ternak.

Pertanyaan 6: Bagaimana jika seseorang memiliki harta yang tidak mencapai nisab?

Jawaban: Jika seseorang memiliki harta yang tidak mencapai nisab, maka ia belum wajib mengeluarkan zakat.

Demikianlah beberapa pertanyaan dan jawaban seputar syarat sah berzakat. Memahami syarat-syarat tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa zakat yang dikeluarkan benar-benar sah dan diterima oleh Allah SWT. Selanjutnya, kita akan membahas lebih dalam tentang hikmah dan manfaat berzakat, serta cara menghitung dan menyalurkan zakat dengan benar.

Tips Memastikan Syarat Sah Berzakat Terpenuhi

Memastikan syarat sah berzakat terpenuhi sangat penting untuk menjamin keabsahan ibadah zakat kita. Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda lakukan:

Tip 1: Pahami Syarat-Syarat Sah Berzakat
Pelajari dan pahami sembilan syarat sah berzakat, mulai dari Islam hingga harta yang tidak diperoleh dari sumber yang haram.

Tip 2: Pastikan Kepemilikan Penuh atas Harta
Harta yang dizakatkan harus menjadi milik Anda secara penuh, bukan pinjaman, titipan, atau hasil curian.

Tip 3: Hitung Nisab dengan Benar
Gunakan standar nisab yang telah ditetapkan untuk jenis harta yang Anda miliki, seperti emas, perak, atau hasil pertanian.

Tip 4: Pastikan Harta Bebas dari Utang
Lunasilah semua utang sebelum mengeluarkan zakat, karena harta yang terlilit utang tidak memenuhi syarat nisab.

Tip 5: Cari Sumber Harta yang Halal
Hindari memperoleh harta dari sumber yang haram, seperti riba, korupsi, atau judi, karena harta tersebut tidak sah untuk dizakatkan.

Tip 6: Catat Transaksi Harta dengan Baik
Buat catatan yang jelas tentang pemasukan dan pengeluaran harta Anda untuk memudahkan perhitungan zakat.

Tip 7: Konsultasikan dengan Ahli
Jika Anda memiliki keraguan atau pertanyaan tentang syarat sah berzakat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ulama atau lembaga amil zakat.

Tip 8: Niatkan Zakat dengan Benar
Keluarkan zakat dengan niat yang tulus karena Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau diakui.

Dengan mengikuti tips ini, Anda dapat memastikan syarat sah berzakat terpenuhi dan ibadah zakat Anda menjadi sah dan diterima oleh Allah SWT.

Selanjutnya, kita akan membahas cara menghitung dan menyalurkan zakat dengan benar. Pemahaman yang jelas tentang hal ini akan membantu Anda menunaikan kewajiban zakat dengan optimal.

Memahami Syarat Sah Berzakat untuk Ibadah yang Sempurna

Artikel ini telah mengulas secara komprehensif tentang syarat sah berzakat, memberikan pemahaman yang mendalam tentang dasar-dasar ibadah zakat dalam Islam. Kesembilan syarat tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan untuk memastikan keabsahan zakat yang kita tunaikan.

Beberapa poin utama yang perlu ditekankan meliputi:

  • Syarat keislaman, baligh, dan merdeka menunjukkan bahwa zakat merupakan kewajiban khusus bagi umat Islam yang telah mencapai usia dewasa dan memiliki kebebasan dalam mengelola hartanya.
  • Syarat harta mencapai nisab dan telah dimiliki selama satu tahun memastikan bahwa zakat dikeluarkan dari harta yang cukup dan telah dimiliki secara penuh.
  • Syarat harta halal dan tidak diperoleh dari sumber yang haram menekankan pentingnya memperoleh harta melalui cara-cara yang dibenarkan syariat Islam.

Memahami syarat sah berzakat tidak hanya penting untuk memenuhi kewajiban agama kita, tetapi juga untuk memastikan bahwa zakat yang kita keluarkan benar-benar bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Dengan menunaikan zakat sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan, kita dapat berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan ekonomi umat Islam.



Artikel Terkait

Bagikan:

Nur Jannah

Halo, Perkenalkan nama saya Nur. Saya adalah salah satu penulis profesional yang suka berbagi ilmu. Dengan Artikel, saya bisa berbagi dengan teman - teman. Semoga semua artikel yang telah saya buat bisa bermanfaat. Pastikan Follow iainpurwokerto.ac.id ya.. Terimakasih..

Artikel Terbaru